Pages

Cari

Minggu, 16 Juli 2017

Eksplor Ternate XIII : Ada Apa Di Hiri?

Road To Kelas Inspirasi KI Ternate : Hiri

Hae,

Pulau Hiri adalah sebuah pulau kecil di sebelah utara Ternate. Dengan luas kira – kira 12 km2, terdiri 6 desa : Dorari Isa, Faudu, Mado, Tafraka, Togolobe, dan Tomajiko. Untuk menuju ke sana satu – satunya alat transportasi adalah dengan menggunakan kapal kayu bermesin 2 atau 3. Dengan panjang 5 m dan lebar 1,5, maksimal penumpang yang dapat di angkut sekitar 15 orang. Kira – kira 20 menitan lah waktu tempuh dari Ternate ke Hiri.

Berikut ini adalah catatan pribadi saya sewaktu Road To Hari Inspirasi Kelas Inspirasi Ternate. Jadi ini bukan laporan resmi ke stakeholder KI Ternate lo ya.

Keberangkatan.

Sepertinya paradigma anak muda susah untuk bangun pagi itu menemukan kenyataannya. Komitmennya ketemuan di titik temu jam tujuh pagi, dengan pertimbangan agar bisa bertemu para pihak yang berkepentingan. Ternyata baru jam tujuh lewat banyak, kita berlima bisa baku dapa. Hmmm.....

Dari dermaga rakyat yang masih seadanya di Sulamadaha, kami berlima, Saya - Tika – Fandi – Dimas – Rizki, berangkat menuju Hiri. Alhamdulillah cuaca pagi itu cerah, tidak ada ombak, dan kapal langsung berangkat pas setelah kita berlima masuk ke lambung kapal. Ternyata kapal sudah penuh, sehingga kami berlima memilih duduk di haluan kapal atau di bagian depan kapal.

Dari haluan kapal, terlihat Pulau Hiri yang berbentuk gunung, bagian atasnya tertutup oleh awan putih. Imaji liar saya membayangkan seperti sebuah pulau yang di diami oleh Tironosaurus Rex, Giganotosaurus, Megalosaurus. Abaikan imaji saya...

Sesuai dengan SOP intelijen internasional yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB, yaitu ketika tiba di suatu tempat yang baru kenalilah daerah itu dengan cara carilah warung makan dulu. Maka sesampai di Hiri, tempat yang pertama kita tuju adalah warung ndomi. Di sela – sela kita ribut pesan ndomi, ada seorang bapak yang sepertinya penasaran dengan kita berlima. Pertama yang muncul adalah pertanyaan basa – basi dari bapak itu : dari mana, mau kemana, ada keperluan apa.

Setelah kita menjawab basa – basi pertanyaan tersebut, sepertinya bapak itu mulai tertarik. Beliau pun bercerita mengenai budaya yang ada di Hiri, mengenai ikan lumba – lumba yang sering lewat depan Hiri, mengenai ikan duyung yang muncul  kalau pas air pasang di awal bulan Qomariyah, dan banyak lagi. Beliau mengenalkan diri sebagai tokoh masyarakat di Hiri, Abdul Kadir namanya. Berkat beliau pula kita bisa sewa sepeda motor dengan sistem lepas start. Artinya kita yang bawa sendiri sepeda motor tersebut.

SD Negeri Togolobe.

Salah satu ruang kelas SDN Togolobe

SD yang pertama kita datangi adalah SD Negeri Togolobe. Ini adalah sekolahan yang paling dekat dengan dermaga Hiri. Lokasinya berada di atas bukit. Akses jalan berupa semen cor, dengan lebar jalan 1 m. Tanjakan cintanya akan membuat cinta kita semakin menanjak. Dari sekolahan ini kita bisa melihat birunya laut. Eksotis.

Bangunan SDN Togolobe sudah bagus, bersih. Ada enam kelas yang dipakai oleh 94 orang murid, plus sebuah perpustakaan. Jumlah guru 15 orang. Di setiap kelas ada alat – alat peraga yang kekinian juga. Murid – murid yang kita temui sepertinya senang dengan kedatangan orang baru. Mereka tidak malu atau takut waktu kita ajak ngobrol. Menurut guru mereka, sudah pernah ada lembaga nirlaba yang mengadakan kegiatan di sana yaitu Wahana Visi Indonesia. Sebagian besar orang tua mereka bekerja sebagai petani dan nelayan, pendidikan tertinggi adalah SMA.

SD Negeri Faudu.

Kak Rizki in action di SDN Faudu

Jalan dari Togolube ke Faudu berkelak – kelok, naik – turun. Kalau dengan sepeda motor butuh waktu sekitar 30 an menit. Bangunan sekolah meski agak kecil dibanding SDN Togolobe, tapi bagus dan bersih. Ada 6 kelas juga dan satu perpustakaan, dengan jumlah murid 91 orang dan jumlah guru 11 orang. Murid – murid sangat antusias ketika melihat kedatangan kita. Begitu juga para guru.

Ibu Guru bercerita banyak kepada kita mengenai kampung Faudu. Beliau bercerita bahwa kampung Faudu adalah kampungnya tentara spesial Sultan Ternate. “Kalau keadaan sudah genting, baru tentara Faudu turun.” Di Faudu juga ada rumah Soa, rumah tua kediaman orang kepercayaan Sultan Ternate. Kalau menurut ibu guru tadi, kalau di Jawa kedudukannya sama dengan Mbah Maridjan. Pada perjalanan pulang, saya pun menyempatkan berfoto bersama Tete ( kakek ) yang disebutkan ibu guru tadi.

Di depan Rumah Soa

Di sekitar Faudu ada beberapa kerajinan khas Hiri, yaitu sapu lidi dan saloi. Saloi adalah keranjang tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Bentuknya seperti kerucut, biasanya di pakai untuk membawa hasil kebun. Cara membawanya seperti membawa ransel. Dan uniknya, saloi ini hanya di bawa oleh kaum perempuan.

Rata – rata mata pencaharian para orang tua berkebun dan nelayan. Pendidikan tertinggi mereka adalah SD.

Pulau Kahona

SDN Faudu dekat dengan sebuah pulau kecil, orang – orang menamainya Pulau Kahona. Pasalnya mirip dengan pulau yang ada di film India yang berjudul Kahona. Amponngggg.....

SDN Tomajiko.

Gerbang SDN Tomajiko

Di SDN Tomajiko kita diterima langsung oleh Bapak Kepala Sekolah, beliau sangat welcome dengan rencana kita mengadakan kegiatan di sekolahannya. Kondisi bangunan di SDN Tomajiko hampir sama dengan dua sekolahan sebelumnya., bersih dan bagus. Ada enam kelas yang di pakai, cuman jumlah murid lebih sedikit , ada 60 murid. Guru yang mengajar 10 orang.

Rata – rata pekerjaan orang tua murid adalah petani dan tukang batu. Memang di sepanjang jalan menuju sekolahan tersebut, banyak bapak – bapak yang sedang mecah batu – batu besar menjadi batu – batu kecil. Pendidikan tertinggi mereka adalah SMP.

SDN Dorari Isa.

SDN Dorari Isa

Lokasinya dekat dengan dermaga Hiri. Pada saat kita ke sana, sekolahan sudah tutup, sudah pada pulang guru dan muridnya.

Karakteristiknya sama dengan SDN Togolobe, karena memang dua sekolahan ini jaraknya paling dekat diantara sekolahan lainnya. Lokasinya diatas bukit, dari tempat itu kita bisa melihat laut biru. Fantastis.

Belum ada info yang lengkap mengenai sekolahan ini, lain waktu kita akan ke sini lagi.

Keseruan.

Seiring berjalannya waktu, seiring melihat – lihat Hiri bermunculanlah ide – ide di benak masing – masing surveyor. Ada yang punya ide; adalah sayang kalau relawan hanya mengajar sehari kemudian pulang. Alangkah lebih elok kalau mereka stay semalam di rumah Mama Piara, untuk lebih mengenal alam, lingkungan, adat istiadat, kebudayaan, dan sejarah orang Hiri.

Ada juga yang punya ide......

Hmmm, maaf akan kita bahas dulu di Panlok, setelah matang baru akan kita lempar ide – ide gilak kita.

Penasaran?

Tunggu Hari Inspirasi Kelas Inspirasi Ternate.