Pages

Cari

Minggu, 09 Juli 2017

Di Taman Sriwedari.


Hae,

Lebaran telah menggerakkan ribuan orang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Moda transportasi darat – laut – udara penuh dengan ribuan penumpang.

Jalan raya seperti cat walk panjang yang memamerkan segala bentuk dan tipe kendaraan. Ada yang roda dua, tiga, empat, bahkan lebih.

Begitu juga dengan para pemudik, ada beragam tipe mudikers. Mulai dari mudikers yang menstrim, seperti mudik bareng bersama pabrik jamu Babon. Atau mudik swamandiri dengan bermodal jempol. Alias nebeng siapa saja yang mau di tebengi, dan entah sampai ke kampung halamannya lebaran taon kapan.

Ini adalah sebuah cerita tipe mudikers yang laen.



Jadi ceritanya begini, teman saya, sebut saja Fulan, bercerita kepada saya tentang pengalaman temannya, sebut saja Serangga ( karena kalau saya sebut Kumbang kurang pecah ),  pas mudik kemaren. Kebetulan saat ini Serangga sedang ngenger  di sebuah kantor, yang katanya orang – orang sih kantornya agak bonapid, yang lokasinya ada di luar Jawa. Tepatnya di suatu kota kecil yang terkenal dengan penghasil rempah – rempah pada masa dahulu, di Propinsi Maluku Utara.

H minus 7, Serangga masih belum beli tiket pulang ke kota S di Jawa . Ketika dia nge cek di Traploka, harga tiket pesawat ke S sudah membumbung melewati ambang batas rupiah yang dia punyai. Dia ingat petuah seorang temannya, bahwa harga tiket akan turun menjelang hari H. Dia pegang petuah itu erat – erat. Hari – hari pun dia lalui seperti biasa, apalagi masih ada bukber di kantornya.

H minus 5, 70% perantau sudah meninggalkan kantor, ostosmastis bukber pun sudah gak ada lagi. Harga tiket belum juga turun dengan signifikan. Teman – teman Serangga dengan massiv  meng ap lod kegiatan mudik di kampung halaman masing – masing. Mulailah Serangga galau. Duduk di kursi serasa tidur di atas buah durian, tidur di kasur serasa duduk diatas air. Resah maksimal.

H minus 3 adalah hari terakhir kantor buka, sebelum libur lebaran. Hanya ada dua perantau yang belum mudik. Serangga dan temannya. Kebetulan temannya telah diperistri oleh orang lokal, jadi gak terlalu galau seperti Serangga. Pagi – pagi Serangga nge cek di Traploka, ternyata tiket pesawat ke S sudah habis. Makin uring – uringanlah dia. “Kurang ajar petuahnya, ini tiket bener – bener turun dari Traploka.”

H minus 2, Serangga membulatkan tekadnya untuk mudik, meskipun belum ada tiket pesawat di tangannya. Sudah dua kali lebaran Serangga tidak bertemu dengan Anggrek Bulannya. Lebaran ke tiga ini dia bertekad tidak ingin seperti Bang Toyib.

Jam enam pagi, dia sudah duduk manis di ruang tunggu bandara. Baru ada dua cleaning service yang datang, belum terlihat petugas bandara lainnya. Di landasan bandara tidak ada pesawat sama sekali.

Jam sembilan pagi bandara mulai ramai. Petugas mulai menjalankan tugasnya, satu dua pesawat mulai mendarat, mudikers mulai memadati bandara.

Terlihat serombongan mudikers, dari bahasa yang dipakai kelihatan banget Jawanya, terdiri dari kakek, nenek, suami, istri, dan 5 anaknya sedang sibuk menata barang bawaan mereka. Sepertinya trasmigran sukses yang membawa oleh – oleh untuk sanak keluarga di Jawa.

Perlahan tapi pasti, Serangga berjalan mendekati anak – anak transmigran yang lagi asik selfi. Dilihatnya tas kepunyaan salah satu anak transmigran terbuka. Tiba – tiba petugas bandara memberitahukan bahwa pesawat ke S sebentar lagi berangkat dan penumpang diminta segera ke ruang tunggu di gate 4.

Berlarianlah keluarga transmigran tersebut menuju gate 4.

Berjam - jam yang membosankan berlalu sudah, hingga akhirnya mendaratlah mereka di kota S. Sudah pasti senanglah hati mereka, karena akan berlebaran di kampung halaman dengan keluarga tercinta.

“Mammaaa!!!” Tiba – tiba salah seorang anak transmigran berteriak keras ketika dia membuka tasnya untuk mengambil ponselnya.

“Oalah Nduk, iku mung coro.”

Serangga pun mudik dengan sukses.

Pada hari H, Anggrek Bulan dan Serangga minum orson  di taman Sriwedari.