Pages

Cari

Minggu, 23 Juli 2017

Film Keluarga : Sepanjang Jalan Satu Arah

Sepanjang Jalan Satu Arah

Hae,

Mudik Lebaran 2017 ke Rumah Laweyan menyisakan banyak cerita yang berkesan bagi saya. Pasti begitu juga dengan semua rakyat Indonesia , baik yang melaksanakan lebaran, simpatisannya, maupun yang tidak melaksanakannya. Bagi yang belum ataupun tidak melaksanakannya, semoga taon depan bisa melaksanakannya.


Rumah Laweyan, dengan segala asesoris yang wagu dan sok nyeni, Alhamdulillah tetap menjadi tempat berkumpulnya tujuh putra – putri Bapak dan Sibu ( minus Almarhum Mas Nono ), menantu, dan cucu – cucu serta cicit beliau yang datang dari berbagai belahan negeri. Ada yang dari Jakarta, Pekalongan, Jogja, Kartosuro, dan Malang.

Pada malam takbiran itu, kami ngobrol ngalur – ngidul gak jelas. Ada yang bahas politik, ada yang bahas pengajian wanita Ngaisiyah, ada yang bahas bumbu sambel tumpang. Sampai akhirnya Bani, anaknya Mbak Dewi kakak saya nomor dua, cerita pengalamannya sewaktu di Jerman. Dia diundang oleh Goethe Institute untuk membuat sebuah film dokumenter karena pihak Goethe tertarik dengan film pendek karyanya yang berjudul Sepanjang Jalan Satu Arah.

Nah ini...

Jujur ini adalah sesuatu yang diluar akal sehat saya. Pertama, dalam sejarah keluarga kami tidak  ada yang berprofesi sebagai seorang pembuat film. Yang ada adalah PNS dan wiraswasta. Ke dua, baru ada dua orang di keluarga kami yang pergi ke luar negeri. Ke Makkah. Lah ini, Bani ke Eropa gratisan.

Malam itu, kami mendapat kehormatan nobar film Sepanjang Jalan Satu Arah bareng dengan sutradaranya dan pemeran utamanya.

Narasi Mbak Dewi yang menceritakan beberapa foto lawas yang warnanya sudah pudar kepada Bani adalah sebagai pembuka  film tersebut.  Warna foto yang didominasi warna coklat, cerita Aceh dan kondisi sedang mengandung Bani pada saat itu, mengingatkan saya pada film G 30 S PKI era Pak Harto. Maksud saya, efek mencekamnya sama.

Film ini menceritakan satu episode kecil di tahun 2015 pada saat pemilihan kepala daerah kota Solo. Dimana salah seorang calon walikotanya  non muslim.

Mbak Dewi dan suaminya, biasa saya panggil Bang Sap, mempunyai dua anak laki – laki. Yang sulung bernama Iwan, sudah berkeluarga, yang bungsu bernama Bani. Keluarga ini adalah keluarga aktipis semua organisasi ke Islaman. Mulai dari PII, Bulan Bintang, Muhammadiyah, Aisiyah, Darul Arqom, Kataman, sampai FPI mereka ikuti semua. Otomatis dalam pilkada 2015 mereka all out mendukung calon walikota yang beragama Islam.

Mbak Dewi dalam setiap acara pertemuan dengan ibu – ibu di kampung Laweyan selalu mengingatkan untuk mencoblos gambar calon walikota yang beragama Islam. Pun juga kepada suami dan anak – anak, menantu, bahkan besannya. Yang paling sering diingatkan adalah kepada Bani. Karena Bani adalah tipe anak muda jaman sekarang, mazhabnya agak berbau golongan putih.

Secara orang awam, saya melihat akting Mbak Dewi berperan sebagai Mama natural banget, mungkin karena memerankan dia sendiri, di rumah sendiri, lawan mainnya juga keluarga sendiri. Adegan pada saat Mbak Dewi berjalan pulang dari TPS, menurut saya itu adegan paling nelongso. Perasaan sedih, kecewa, marah dengan hasil penghitungan suara, campur menjadi satu.

Mbak Dewi

Pesan yang saya tangkap dari film berdurasi 16 menit ini, Bani telah berhasil memanfaatkan seluruh keluarganya dalam satu film keluarga, yang mana film itu menang sebagai kategori Short Documentary di SeaShort Film Festival  Kuala Lumpur.


Selamat Ban.