Pages

Cari

Sabtu, 12 Agustus 2017

Chaos on The Barak

Barak

Prologue

Hampir setengah purnama sudah, satu batalyon prajurit abal - abal digodok di Ksatriyan Megamega untuk menjadi prajurit telik sandi yang nggegirisi .Ksatriyan ini terletak di kaki Gunung Gede - Pangrango yang ketinggiannya sekitar 1.800 m diatas permukaan laut. Suhu sehari - hari berkisar 19 - 21 derajat Celcius, itu setara dengan satu balok es yang di cemplungkan ke dalam ember kecil. Brrrrrrr......



Setiap pagi mereka harus sudah bangun sebelum ayam jago pamer ringkikan mesum kepada ayam babon. Setelah solat Subuh berjamaah, mereka diarak berjalan kaki menembus dinginnya pagi dan pekatnya kabut, melewati lembah dan ngarai, menyeberangi derasnya sungai yang dangkal, beradu kejelian dengan rajawali dan ketangkasan macan kumbang dalam mencari bahan - bahan untuk sarapan pagi, dan berlatih yoga di pinggir pantai meniru karang yang kokoh walau diterjang ombak. Ngwerihhhh....

Kamis sore

Sejak sore tadi langit diatas ksatriyan gelap tertutup awan tebal.

Beberapa prajurit terlihat sedang bercengkrama di ruang bersama sambil menikmati asap yang keluar dari rokok klobot yang mereka racik sendiri, yang bahan bakunya mereka ambil dari hutan di sekitar ksatriyan. 

Tak berapa lama awan tebal tersebut turun ke bumi menjadi milyaran tetesan - tetesan air. Ksatriyan ini memang terkenal dengan julukan Ksatriyan Sering Hujan. Menurut catatan Mbah Gugel , curah hujan rata - rata setiap tahun di ksatriyan ini adalah 3.500 - 4.000 mm. Sedangkan curah hujan rata - rata normalnya adalah 990 mm. Kebayangkan betapa kayanya ksatriyan tersebut dengan air hujan.

Entah karena capek setelah seharian berlatih telik sendi atau karena cuaca yang makin malam makin dingin, para prajurit sudah tidak ada yang terlihat di luar barak. Sembilan dari sepuluh barak  sudah gelap, malah ada terdengar battle dengkuran antar barak.

Hujan masih setia mengguyur tanah ksatriyan malam itu.

Panggilan Luar Biasa

"Bangun!! Bangun!!...Kumpul di lapangan, cep..paattt!!!" Teriak instruktur.

Suara derap sepatu instruktur, beradu dengan suara pintu barak yang digedor - gedor instruktur. Para prajurit yang baru saja tertidur lelap, berloncatan dari peraduan mereka. Berebutan mencari baju dan celana yang di taruh di gantungan baju. Ada juga yang sudah di taruh di tempat baju kotor. 

Ada yang kebelet pipis. Ada yang tergopoh - gopoh mencari kacamata. Ada yang diam mematung.

"Dor!!!...Dorrrr!!!...." Suara tembakan menggelegar memekakkan telinga.

"Sepuluh menit lagi kumpul di lapangan!!!" Teriak instruktur.

Para prajurit panik.

"Celanaku mana,  celanaku maannaa???"Teriak seorang prajurit berperawakan tidak tinggi  dan agak gemuk, sebut saja Rangga ( nama panjangnya adalah Serangga ).  Di carinya digantungan baju, tapi tidak diketemukannya.

"Tadi aku taruh situ." Dua orang temannya yang satu barak dengannya, yaitu Gus dan Cak, tidak ada yang menjawab.  Mereka sedang sibuk memakai celana dan baju mereka masing - masing.

"Gus! itu celanaku!" Rangga menunjuk celana yang sedang dipakai secara paksa oleh Gus. Konyolnya, Gus, yang berperawakan rata - rata lelaki Indonesia usia 45-an yang ndak pernah olahraga dan makannya lahap ini tidak sadar bahwa celana yang dipaksa untuk dipakainya ukuran pinggangnya jauuhh lebih kecil, juga panjang celananya jaauuhh lebih pendek dari kepunyaan dia.

Kalaulah ada Komisi Perlindungan Celana dan Baju Indonesia, Rangga sudah pasti mengadukan Gus kepada KPCBI dengan tuduhan "berusaha secara paksa memasukkan sesuatu bukan pada tempatnya."

Masih tersisa 1,5 purnama lagi, akankah ada kekacauan konyol lagi?