Pages

Cari

Rabu, 30 Agustus 2017

Pesiar Ke Kampung Magribi

Toko di Kampung Magribi

AKLAMASI

Ksatryan Megamega ini mempunyai aturan super duper ketat. Aturan - aturan itu mengikat para cantrik yang ngangsu kawruh di situ selama 24 jam penuh. Pagi hari mereka harus bangun sebelum tetes embun yang pertama jatuh ke bumi. Pada rentang  1000 ketukan mereka harus sudah siap olah kanuragan di sebuah lembah yang luas. Kabut dingin yang turun bersama semribitnya angin tidak mereka hiraukan. Ketika terdengar suara seruling pada nada re selama lebih kurang lebih 250 ketukan, 20 peleton cantrik secara terpimpin harus kembali ke barak untuk persiapan kegiatan selanjutnya.


Dalam hal makan para cantrik juga diatur. Harus bersama - sama pada jam yang telah ditentukan. Pakaiannya tidak boleh seperti makan di warung - warung kopi sasetan murahan pinggir jalan. Minimal pakaiannya seperti pada waktu menghadiri undangan njagong di rumah Wedana.

Ketika melakukan pergeseran dari satu tempat ke tempat lainnya, para cantrik tidak boleh sendiri - sendiri. Atau istilahnya adalah menetes. Kemanapun harus bersama - sama, minimal dua orang.

Tapi seketat - ketatnya aturan di ksatryan, para petinggi ksatryan  telah memikirkan sebuah aturan yang berbasis pada Konvensi Jeneva, dengan memperhatikan Hak Asasi Cantrik. Para cantrik diberikan kesempatan pesiar pada hari Rabu, dimulai sore hari ketika burung - burung pulang ke sarangnya , dan harus kembali ke ksatryan ketika hewan - hewan malam mulai keluar dari sarangnya.

Kesempatan ini tidak disia - siakan oleh Peleton Pajeglempung Pitu.

Selasa malam, mereka telah melakukan rapat besar membahas tujuan pesiar. Ada 30 usulan lokasi yang disampaikan pada malam itu. Mulai dari usul makan di restoran khas Sunda, ada yang usul mengunjungi Taman Sapari, dan yang paling lantang usul adalah kawan cantrik dari pedalaman tlatah Borneo. Panggil dia Ken.

Ken mengusulkan pesiar ke Kampung Magribi. Sebuah kampung di dekat ksatryan yang banyak dikunjungi oleh sheikh - sheikh dari negeri Petro Dolar. Ken memberikan argumen bahwa makanan di Kampung Magribi sangat khas Timur Tengah yang menurutnya  lazis - lazis, disamping itu sekalian mempraktekan ilmu yang telah mereka dapat tentang cara telik sandi yang baik dan benar.

"Kawan - kawan nanti bisa praktek surveillence, undercover, eliciting. Kawan - kawan bisa improvisasi berbagai macam teknik." Orasi Ken begitu menggebu - gebu, mengena banget ke hati cantrik Peleton Pajeglempung Pitu yang lagi euforia teknik lidik.

Semua diam, beberapa detik kemudian kepala mereka manggut - manggut. Mata mereka melirik ke arah kanan atas, senyum simpul mengembang di bibir para cantrik. Diatas kepala mereka seperti ada gelembung yang berisi rencana - rencana licik mereka.

"Bener juga apa yang dikatakan Ken." Bisik mereka dalam hati.

Malam itu, secara aklamasi mereka memutuskan besok sore pesiar ke Kampung Magribi.

KAMPUNG MAGRIBI

Ketika memasuki batas wilayah Kampung Magribi, sangat terasa sekali suasana Timur Tengahnya. Papan nama toko - toko, restoran, warung kopi sasetan, butik, penunjuk arah, hotel, vila, tukang cukur, penjual jamu kuat, semuanya memakai huruf Arab tanpa harakat. Bahkan kata seorang cantrik yang pernah ke Arab, penataan barang - barang di toko - toko seperti di Nabawi.

Di jalanan banyak ditemui laki - laki Timur Tengah hilir mudik. Ada yang mengenakan pakaian jubah khas sheikh, ada yang pakaian biasa. Yang perempuan ada yang bercadar, ada yang berhijab biasa. Ada yang bersama keluarga, ada yang bergerombol laki - laki semua. Kalau yang perempuan pasti ada muhrimnya. Bahasa Arab pasaran terdengar dari mulut para penjaga vila, penjual jamu, tukang urut.

Ken masuk ke sebuah toko kosmetik. Dia tertarik dengan banyaknya perempuan lokal maupun Timur Tengah yang masuk ke toko tersebut. Sambil melihat - lihat lipstik, indra pendengaran dan penglihatannya dia kerahkan secara maksimal. Dia sangat penasaran siapa pemilik toko itu. Karena setiap dia mencoba menyinggung siapa pemiilk toko itu, neng - neng geulis  SPG menjawab ,"Punten Kak, Abdi teu teurang."

Seorang laki - laki Timur Tengah tingi besar dengan baju sheikh masuk ke toko kosmetik itu. Pandangannya teduh, mulutnya komat - kamit. Dia menuju ke bagian parfum dan berbicara kepada seorang Neng Geulis SPG. Tak berapa lama neng Geulis SPG tersebut membawakan sebuah botol parfum berbentuk kodok, dan diserahkannya kepada sheikh itu. 

Disemprotkannya parfum tersebut ke pergelangan tangannya, kemudian di dekatkannya pergelangan tangan ke hidungnya. Sheikh itu tersenyum simpul, matanya melirik ke seorang perempuan mungil berkacamata yang memakai cadar.

"Kak, ini ada titipan dari Sheikh." Kata Neng Geulis SPG kepada Ken, telunjuknya mengarah kepada seorang laki - laki Timur Tengah berbadan tinggi besar yang berdiri di depan pintu masuk. Mata sheikh itu mengerling genit kepada Ken.

"Ampuunnnn Maakkkk...." Suara asli Ken membahana ke seluruh ruangan toko itu.


Sontak Ken melepaskan semua atribut penyamarannya, dan terbirit - birit dengan membawa botol parfum berbentuk kodok menerobos kaki sheikh yang berdiri mengangkang.

Hangus sudah penyamaran Kentrungan. ( Nama panggung dari Ken )