Pages

Cari

Minggu, 19 November 2017

Kemenkeu Mengajar Ternate di Pesta Komunitas Ternate

Pengunjung venue KM Ternate

SUNNATULLAH

Kalau kita baca mengenai teori manusia sebagai mahluk sosial, ada beberapa teori yang terkenal. Aristoteles menggunakan istilah Zoon Politicon, zoon berarti hewan dan politicon berarti bermasyarakat. Kodrat manusia adalah hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan pihak lain, itu yang membedakan manusia dengan hewan.

Adam Smith menggunakan istilah Homo Homini Socius, manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.

Dalam perspektif Agama Islam, hidup bermasyarakat adalah suatu sunnatullah.


PROLOG

Setelah selesainya Hari Mengajar Kemenkeu Mengajar Ternate pada tanggal 23 Oktober 2017 ( bisa dibaca Kemenkeu Mengajar Ternate : Mencoba Menginspirasi Kids Jaman Now ), ada satu keinginan dari Panitia Lokal Kemenkeu Mengajar Ternate untuk mengadakan pameran foto. Sebenarnya ini adalah keinginan yang nekat. Karena kita tidak punya pengalaman apapun mengenai pameran fotogarafi, kita juga bukan orang yang paham soal fotografi. Kamera aja cuman kamera hape made in Cinoan.

Tujuan kita timbul dari pemikiran yang sederhana saja, alangkah sayangnya foto – foto yang sudah susah payah di hasilkan oleh para Relawan Dokumentator hanya dinikmati oleh segelintir orang. Juga support buat para Relawan Dokumentator untuk lebih pede lagi, “ Eh fotoku di pamerin lo.” Kira – kira begitu.

Satu lagi untuk menyenangkan hati anak – anak SD 02 dan 44 Ternate, bahwa sekolahan mereka, tari – tarian mereka, upacara mereka, wajah – wajah mereka ada di foto yang dipamerkan. ( Sungguh mulia sekali torang pe tujuan bukan? )

Rencananya kita akan mengadakan pameran di sebuah kafe di belakang mol lama Ternate. Pertemuan dengan ownernya kita lakukan. Sudah ada deal – deal tertentu dengan owner, yang maaf tidak bisa saya ungkapkan disini. Beberapa persiapan telah kita lakukan, yaitu cetak foto. ( Yaiyalah, mosok mau pameran foto belum ada foto yang dicetak. )

Bagi tamang – tamang yang aktif di komunitas relawan pasti akan menghadapi tantangan – tantangan. Saya tidak menyebutnya kendala, karena kendala kedengarannya kok manjah...

Tantangan untuk suatu komunitas yang anggotanya para pegawai kantoran adalah harus bisa berkompromi dengan pekerjaan. Maksud saya begini, tupoksi mereka adalah dibayar untuk mengerjakan tugas – tugas kantor. Sedangkan di komunitas adalah suka rela, tidak dibayar. Ostosmastis skala prioritas mereka adalah tugas – tugas kantor. Kadang mereka ada Dinas Luar ke luar pulau, ada pekerjaan yang sudah mendekati Jatuh Tempo.  (Kok saya malah curhat ya... )

Okay lah, itulah seninya.

Maka di Kemenkeu Mengajar Ternate tidak harus Koordinator Kota atau para pejabat yang menghandle acara. Siapa yang punya ide dan mau, sangat dipersilahkan. ( Its just my opinion...)

JARINGAN KOMUNITAS TERNATE

Seminggu sebelum hari H pameran, Kemenkeu Mengajar Ternate mendapat ajakan dari Jaringan Komunitas Ternate untuk ambil bagian dalam Pesta Komunitas Ternate. Ini adalah ajakan yang terhormat banget bagi kita, tapi juga membuat kita bingung. Karena kita sudah membuat deal dengan owner kafe yang akan kita pakai untuk pameran foto.

Alhamdulillah, setelah kita ngobrol dengan owner kafe tersebut, beliaunya bisa menerima alasan kita membatalkan rencana memakai kafe tersebut untuk pameran foto.

Hari Sabtu, 18 November 2017, bertempat di depan Benteng Oranje Kemenkeu Mengajar Ternate ikut serta dalam Pesta Komunitas Ternate. Ada sekitar 45 komunitas yang ambil bagian. Komunitas fotografi, komunitas film, komunitas rapper, komunitas pegiat literasi jalanan, komunitas pecinta bahasa, komunitas pegiat pendidikan di daerah terpencil, komunitas pegiat sejarah dan budaya, komunitas pegiat pelukis sketsa, dan  banyak lagi.

Kita menempati venue 1D dengan ukuran 6x6 m. Satu venue diisi oleh dua komunitas. Kebetulan kita berbagi venue dengan Komunitas Pecinta Bahasa ( Kopi Bahasa ),yaitu sebuah komunitas yang bergerak memberikan les beberapa bahasa asing gratis kepada anak – anak muda Ternate.

"Ituuu fotokuuu..."

Di venue tersebut kita menggantungkan foto – foto kegiatan Hari Mengajar di SDN 2 Ternate, SDN 44 Ternate, dan SDN 4 Tobelo. Tidak banyak properti di venue Kemenkeu Mengajar Ternate. Pas di depan venue kita adalah panggung utama, dimana segala aksi hiburan ala anak muda Ternate tampil di situ.

Ada banyak atraksi budaya yang ditampilkan. Salah satunya adalah Bara Masuwen atau dalam bahasa Indonesianya Bambu Gila. Ini adalah sebuah tarian dari Maluku yang agak berbau mistis. Sebuah bambu yang mempunyai tujuh ruas, dipegangi oleh tujuh orang. Sebelum memulai tarian ini, seorang pawang membakar seonggok batang padi yang telah di mantrai dengan Bahasa Tanah, salah satu bahasa daerah Maluku. Di tiap ruas bambu itu di tiup asap batang padi tadi. Suara tifa dan gong membuat sebuah alunan musik yang mendayu – dayu menambah mistisnya suasana. Kemudian tujuh orang tersebut akan membuat sebuah gerakan kesana kemari, bak sebuah tarian,  menahan bambu yang tiba – tiba menjadi berat. ( Mari torang coba jo...)

Sore yang gerimis, venue Kemenkeu Mengajar Ternate terlihat dikunjungi oleh segerombolan anak muda. Ternyata mereka hanya menumpang berteduh sambil melihat hiburan di panggung utama.

Tiba – tiba, “Kak, ini foto kakakku.” Tunjuk seorang anak pada sebuah foto. “Ini fotokuuu..” Kata yang lain. Ternyata beberapa murid SDN 44 datang untuk melihat pameran. Lumayan lah, salah satu tujuan kita membuat pameran foto terpenuhi.

Yang bikin agak gimana adalah pertanyaan mereka. “Kak Putra mana ?” Tanya seorang cewek murid SDN 44 Ternate. Untuk diketahui, Putra adalah seorang pegawai muda Bea Cukai Ternate yang kemarin ikut menjadi relawan pengajar di SDN 44. Dia adalah idola para gadis dibawah umur di SDN 44.

Untuk Putra, tanggung jawab ngana tuh....

Dimalam hari ada sebuah agenda acara yang bernama Pecha Kucha dari seluruh komunitas yang ikut. Ini adalah format presentasi dengan 10 gambar / slide dimana setiap slide berdurasi 20 detik. Menurut saya, seharusnya ini akan menjadi acara yang sangat menarik. Dimana kita akan saling tahu profil dari masing – masing komunitas. Sayangnya tidak berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Tiada gading yang tak retak.

Dan rangkaian acara ditutup secara formal dengan melepaskan lampion warna – warni ke angkasa.

Apresiasi yang tinggi buat Jaringan Komunitas Ternate, tamang – tamang komunitas, para pengunjung.


Tabea.