Pages

Cari

Minggu, 05 November 2017

Traveloka Mengajarkan Kepada Saya Adanya Perubahan.

Traveloka

Saya pernah mendengar seorang motivator pada suatu acara In House Training di kantor, berkata begini, “ Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.” Artinya apa ? Artinya bahwa perubahan itu akan selalu ada. Misalnya, jaman kakek nenek kita dahulu beli tiket pesawat harus ke kantor maskapainya, agak kesini dikit bisa lewat calo – calo, di era modern beli di agen – agen perjalanan, di jaman now lebih dimudahkan lagi hanya dengan sekali sentuh di layar hape, kita sudah bisa membeli tiket pesawat. Kira – kira begitu.

“Ah, omong kosong.” Pikir saya. Selama ini hidup saya mengalir saja, pelan, seperti aliran sungai di musim kering. Pagi pergi ke kantor naik angkot, sore pulang ke rumah naik angkot juga. Eh jangan punya pikiran  negatif dulu ya, jangan pada mikir, “Ni orang gak tau bersyukur apa?” Menurut saya bersyukur apa tidak itu tergantung sikap kita, kalau kita bisa menikmati keadaan kita berarti itu bersyukur, tanpa harus kita ucapkan, “Saya bersyukur Ya Allah.”

Awal April 2016, di tengah malam, suara notifikasi grup WA kantor berulang kali berbunyi. “Tang ting tang ting tang ting.” Huh, berisik banget. Ada yang ngasih ucapan selamat, “ Congrat Bro, semoga amanah.” Ada juga yang komen, “ Siapin koper Mas.” Apaan sih ini, komennya kok pada gak jelas. Oh ternyata saya belum pakai kacamata sehingga tulisannya blawur, doble semua.

Setelah kesadaran saya sudah mencapai ambang batas normal, perlahan saya baca dari awal. Deg......Ada postingan tentang mutasi pegawai. Tahu sendiri kan, salah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh pegawai DJP adalah mutasi. Mutasi itu seperti kita mengocok lotere. Berharap mendapat lotere, tapi sangat cemas dengan isi lotere tersebut. Kalau lotere yang kita dapat sesuai dengan harapan kita, berbahagialah kita. Tapi kalau meleset dari harapan kita, tetap berharap di lain waktu akan sesuai harapan. Kok malah curhat sih....

Dengan teliti saya cari nama saya di daftar mutasi. Lebih dari 3 kali saya baca dari awal hingga akhir.

Positif, saya di mutasi ke Ternate.

Mulailah googling, dimana Ternate itu, naik apa ke sana, berapa harga tiket ke sana, dan sebagainya. Mulai pasang aplikasi Traveloka di hape saya. Entah mengapa yang ada di benak saya waktu itu kalau beli tiket online ya Traveloka. Mungkin karena promosinya yang begitu dahsyatnya, dahsyatnya, dahsyatnya....Eh, itu Anggur Merah nya Bang Meggy Z ding.

Setelah pasang aplikasi Traveloka di hape, saya eksplor menu – menu yang ada di Traveloka. Jujur, dari Traveloka lah saya pertama kali tahu kalau Bandara Juanda Surabaya itu kodenya adalah SUB, Bandara Sultan Babullah Ternate kodenya TTE, Bandara Sultan Hasanudin Maros kodenya UPG. Mengapa tiga bandara itu yang saya hafal ? Karena itu adalah rute penerbangan saya dari Surabaya ke Ternate, transit dulu di Maros.

Bagi saya yang nota bene nya adalah old school jaman now , pengoperasian aplikasi Traveloka ini termasuk dalam kategori “mudah”. Kita tinggal pencet ini pencet itu, kalau dalam istilah Jawa adalah tinggal dudal dudul saja akan tersajikan informasi penerbangan ke tempat yang akan kita tuju.

Suatu saat saya sudah beli tiket pesawat ke SUB pada hari H. Tiba – tiba di H-3 pukul 22.00 WIT, saya dikabari kakak saya yang di JOG meninggal. Yang pertama terlintas di otak saya adalah cari tiket ke JOG buat besok pagi. Untungnya ada menu Reschedule di Traveloka, pada malam itu juga saya bisa mengalihkan penerbangan ke SUB menjadi ke JOG esok hari. Nggak kebayang kalau beli tiket masih harus ke agen perjalanan, pastinya saya harus nunggu besok pagi untuk melakukan reschedule di agen perjalanan, dengan segala prosedur yang riweh.


Petuah bijak Motivator tentang perubahan itu ternyata benar – benar saya alami.  Satu hal yang belum di bahas oleh Motivator adalah dampak dari perubahan, yaitu tagihan kartu kredit yang menggelembung.

Mungkin di IHT selanjutnya.