Pages

Cari

Selasa, 26 Juni 2018

Habis Mudik Terbitlah Cucian

Mudikers.

Ritual tahunan yang sangat menguras energi rakyat Indonesia adalah mudik. Mudik berasal dari kata dasar udik, yang berarti kampung. Mudik berarti pulangnya para perantau ke kampung halaman masing – masing di hari Idul Fitri. Kata mudik tidak akan digunakan di hari – hari selain Idul Fitri.

Mudik adalah sesuatu yang sangat spesial, sampai -sampai semua stasiun televisi di Indonesia menyiarkan pantauan mudik ini dari beberapa titik secara langsung.


Jujur, yang saya nikmati dari mudik adalah perjalanan menuju ke kampung halaman. Kampung halaman saya adalah di Laweyan, masuk wilayah Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Berangkat di H+1, setelah solat Subuh dari sebuah desa 25 km selatan Kota Malang, Turen. Dengan mengendarai mobil LCGC 1000 cc besutan Toyota, saya beserta istri dan dua anak laki – laki saya menyusuri jalur selatan. Jalanan masih sepi, orang – orang masih tertidur karena kekenyangan makan jajanan lebaran. Dua anak laki – laki saya pun meneruskan tidurnya di jok belakang. Istri saya di samping saya sambil terkantuk – kantuk menemani saya menyetir.

Berdasarkan pengalaman tahun – tahun yang lalu, titik kemacetan ada di daerah Bagor, Nganjuk. Karena disitu bertemunya kendaraan dari arah Surabaya dan Malang yang akan menuju ke Solo. Biasanya kendaraan akan berjalan merayap. Titik kemacetan berikutnya adalah Hutan Saradan, karena ruas jalannya sempit sedangkan volume kendaraan melimpah ruah. Di pinggir jalan biasanya banyak para penjual makanan dan minuman, juga posko mudik dari produsen mi instan.

Sekitar jam delapan pagi, mulai terlihat sesama pemudik baik dengan mobil maupun sepeda motor berpapasan dengan kita. Ketika masuk ke Bagor, terlihat perbedaan yang sangat mencolok. Yang dulu jalannya hancur, sekarang sudah diaspal hotmix dan beton cor. Sudah tidak ada antrian kendaraan yang berjalan merayap, tidak ada lagi polisi – polisi yang bekerja keras mengatur lau lintas. Pom bensin yang dulu biasanya penuh dengan orang melepas hajat dan lelah dan juga para penjual bakso ,cilok, mainan anak – anak, sekarang sepi. Masuk hutan Saradan lancar jaya, warung – warung pinggir jalan sepi pembeli, tidak ada lagi posko mudik dari produsen mi instan. Ternyata para pemudik lewat jalan tol Kertosono – Ngawi, Ngawi – Solo yang baru dibangun.

Saya kehilangan ruh mudik di jalanan tahun ini.

Nonton Bareng di Rumah Laweyan.

Malam harinya kita berkumpul di rumah Laweyan, makan malam di halaman depan rumah pepunden bersama keluarganya Mbak Dewi, Mbak Jamik, dan Mbak Indah. Dilanjutkan nonton bareng filmnya Bani, anaknya Mbak Dewi yang jebolan ISI Solo. Film yang pertama Sepanjang Jalan Satu Arah, saya pernah mereviu di sini. Berkat film itu Bani bisa melanglang buana ke Perancis, Korea, Jerman, bahkan menjadi nominator FFI 2017 untuk film pendek dokumenter. Film yang ke dua berjudul 5 Desa. Film dokumenter yang di buat di sebuah desa di Jerman atas sponsor Goethe Institut. Film yang ke tiga film dokumenter karya Rahung Nasution tentang mantan tahanan Pulau Buru yang berkunjung kembali ke Pulau Buru beberapa tahun setelah bebas. Film ke empat adalah dokumenter dari Ibu Risma, Walikota Surabaya.

Tak terasa malam telah larut, satu per satu pamit untuk beristirahat.

Halal Bihalal Trah Martodinaman.

Keesokan harinya agendanya adalah Halal Bihalal Trah Martodinoman. Martodinomo adalah nama Mbah saya. Seingat saya ketika saya SD, acara halal bihalal ini sudah ada. Tujuan halal bihalal ini adalah nglumpukke balung pisah. Menjalin kembali silaturahmi keluarga yang sudah berpencar ke seantero bumi. Semoga Allah meridoi acara ini dan melanggengkannya.

Lebaran menurut saya adalah hari piknik bersama keluarga nasional. Lihat saja tempat – tempat wisata, mulai dari wisata murah meriah sampai wisata mahal dipenuhi dengan keluarga – keluarga Indonesia yang bahagia.

De Tjolomadoe.

Yang murah meriah contohnya De Tjolomadoe. Dahulu adalah sebuah pabrik gula peninggalan Belanda. Lama tidak beroperasi dan tak terurus. Sekarang di sulap menjadi sebuah museum yang apik, dan pastinya instagramable. Surganya para pemuja swafoto.

Pasar Triwindu.

Pasar Triwindu. Dahulu pasar ini adalah pasar klitikan atau barang bekas. Bahkan ada yang memberi julukan Pasar Spanyol alias separo nyolong. Barang yang dijual ada yang hasil dari curian. Sekarang sudah beeedddaaaa jaauuuhhh. Tertata cantik. Barang yang di jual adalah barang antik, baik repro maupun asli. Ada lukisan Affandi, koper jadul, kapstok jadul, piring dari dinasti Ming, dan masih banyak lagi.

Bukit Sekipan.

Bagi orang – orang kota yang ingin menikmati alam pegunungan, bisa mampir ke Bukit Sekipan di daerah Tawangmangu, Karanganyar. Syaratnya sabar saja. Dengan jalan berkelak kelok menanjak dan macet. Bagi saya yang rumahnya di desa, main ke sini ya biasa saja.


Setelah 4 malam mudik, yang tersisa adalah cucian.