Pages

Cari

Jumat, 01 Juni 2018

Psikologi Ngasal Warna.

Macam - macam warna.

Saya tidak tahu berapa jumlah warna yang ada di alam semesta ini. Yang saya tahu warna pelangi itu ada mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. E tapi warna nila itu yang mana ya? Apakah seperti warna ikan nila yang kuning itu? Ah sudahlah, gak penting banget.

Saya pernah ke toko bangunan untuk beli cat. Si Penjual menyodorkan kepada saya katalog warna cat. Saya langsung kelihatan bodohnya. Ternyata warna itu sekarang banyak banget, dan namanya pun aneh – aneh. Ada putih pearl, hijau toska, merah marun, abu – abu pucat, biru dongker. Adduuhh...Siapa juga yang sempat – sempatnya bikin nama – nama  warna begitu banyaknya.

Sejak kita sekolah di TK, kita telah diajarkan lima macam warna lewat lagu Balonku. Yaitu hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Tapi anehnya yang meletus adalah balon warna hijau. Jadi sebenarnya sejak kecil kita juga sudah diajarkan keanehan – keanehan di sekitar kita.

Oh iya, ada satu lagi keanehan kita terhadap warna. Di daerah kelahiran saya, Solo, penyebutan untuk lampu lalu lintas yang berada di persimpangan jalan adalah Bangjo. Singkatan dari abang ijo, artinya merah hijau. Padahal ada tiga warna, yaitu merah kuning hijau. Mungkin ciri khas kita adalah suka menyembunyikan sesuatu.

Warna pun bisa mengandung arti yang bermacam – macam. Misalnya merah, jamak diartikan sebagai berani. Putih diartikan suci, hijau diartikan segar, hitam diartikan elegan, biru diartikan luas seluas langit. Tergantung masing – masing pribadi mengartikannya. Bahkan ada juga orang – orang yang fanatik terhadap warna tertentu. Atau juga fanatik anti terhadap warna – warna tertentu.

Warna itu seperti udara. Diciptakan oleh Sang Maha Pencipta secara sempurna dan gratis untuk bisa kita gunakan sebebas – bebasnya. Menjadi mahal setelah kita taruh dalam bungkus yang unik, kita labeli dengan nama yang asing, kemudian kita taruh di etalase yang cantik. Hanya orang – orang kaya yang bisa membeli dan memakainya.

Dulu di era Orde Baru, setiap lima tahun sekali ada tiga warna yang mendominasi atmosfir Indonesia. Yaitu kuning, hijau, dan merah. Toko – toko kain, cat, kaos, benang, mainan anak – anak, bahan bangunan, mobil, beras, berlomba – lomba menjual barang dagangan mereka dengan tiga macam warna tersebut. Alhamdulillah mereka laku keras.

Di era milenial sekarang ini, rakyat Indonesia punya banyak pilihan warna. Tiga warna tersebut masih ada, tapi tiga warna tersebut sudah tidak bisa diklaim milik golongan tertentu. Misalnya, kalau dulu warna kuning adalah identik dengan jaketnya anak – anak UI, sekarang sudah tidak bisa lagi. Bisa juga kuning itu adalah kuliner khas Ternate, yaitu nasi kuning Ternate. Kalau dulu merah identik dengan seragam sekolah anak SD, sekarang gak bisa  lagi. Karena seragam anak – anak SD sekarang sudah mengikuti sinetron, now bingits.

Setiap warna kalau mau eksis harus berkolaborasi dengan warna lain. Mereka harus bisa membaur dengan warna lain, berpadu padan dengan warna lain agar elok dipandang mata  Meskipun kadang agak maksa.

Saya tidak punya warna favorit. Pakaian saya ada yang warna putih, biru, hijau, merah, kuning, hitam, putih mangkrak, abu – abu. Yang mendasari saya memilih warna pakaian adalah tempatnya. Kalau mereka di taruh di kotak – kotak di Matahari, Ramayana, atau Trend, pasti akan saya pilih. Apalagi ada tulisan 75% - 100%.


Selamat berburu warna baju lebaran.