Pages

Cari

Selasa, 07 Agustus 2018

Eksplor Ternate XV : Menyusuri Pecinan Ternate.

Rute Jelajah

Minggu pagi , 5 Agustus 2018, saya berkesempatan ikut Jelajah Pusaka Kampong Cina dan Kampong Tenga yang di gagas oleh Komunitas Tenate Heritage Society. Menurut SMS yang saya terima dari panitia, titik kumpul di Kelenteng Ibu Suri Agung  jam tujuh pagi. Ini adalah kali ke dua ikutan jelajah pusaka di Ternate. Cerita jelajah pusaka yang pertama bisa dibaca disini.


Pukul 07.08 WIT saya sudah sampai di kelenteng. Beberapa panitia dan peserta sudah datang. Setelah saya tanda tangan daftar hadir, saya diberi selembar kertas yang berjudul Panduan Jelajah Kampong Cina dan Tenga ( Jelajah Spesial Kemerdekaan ). Di halaman pertama berisi uraian singkat mengenai : 1. Tujuan; 2. Bentuk Kegiatan; 3. Metode; 4. Waktu dan Rute Jelajah; 5. Hal –hal yang Boleh Dilakukan Peserta Selama Kegiatan; 6. Hal – hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Peserta Selama Kegiatan; 7. Penutup. Di halaman ke dua adalah rute jelajah pusaka.

Jelajah kali ini spesial untuk menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang tujuannya adalah memperkenalkan sejarah dan pusaka Ternate berupa arsitektur, artefak, situs, sosial budaya, dengan mengunjungi objek yang dimaksud.

Ada sekitar 38 peserta Jelajah yang ikut. Sebagian besar adalah anak – anak muda Ternate. Ada seorang peserta perempuan dari Korea, Profesor Seon Wong Song, dosen sejarah Indonesia di universitas di Korea. Pada tahun 2008 menyelesaikan disertasinya tentang Pancasila di Universitas Ohio Amerika Serikat. Katanya pernah ketemu Gus Dur juga pada saat menyelesaikan disertasinya tersebut. Pasti bingung kan...Apa perlunya orang Korea mempelajari Pancasila?

Berdasarkan rute jelajah, ada 7 titik pemberhentian.

1.Kelenteng Ibu Suri Agung.

Lokasi kelenteng ini berada di belakang toko – toko, tidak terlihat dari pinggir jalan. Akses masuknya lewat jalan sempit. Posisi kelenteng membelakangi Gunung Gamalama dan menghadap ke laut. Warna merah dan kuning mendominasi warna bangunan kelenteng. Ada 4 naga yang menjaga kelenteng ini. Dua di pilar masuk, dua berada di atap.

 Menurut Doktor Maulana Ibrahim, pegiat Ternate Heritage Society yang menjadi tour guide jelajah ini menjelaskan bahwa orang – orang Cina telah lama melakukan perdagangan dengan Ternate. Mereka melakukan pelayaran dengan memanfaatkan Angin Muson Barat dan Angin Muson Timur. Mereka bisa berbulan –bulan berada di Ternate untuk menunggu pergantian musim angin yang akan membawa mereka kembali ke Cina. Atas kebaikan Sultan Ternate, mereka diberi tanah untuk mendirikan tempat berteduh. Akhirnya mereka mendirikan rumah dan juga kelenteng tersebut. Lama kelamaan berkembanglah wilayah itu menjadi Pecinan.

Menurut catatan sejarah, kelenteng tersebut di bangun tahun 1657. Baru dipugar tahun 2007. Kelenteng itu bernama Thian Hou Kiong, Thian artinya istana, Hou artinya permai, Kiong artinya langit. Saya tidak tahu mengapa di pintu masuk tertulis Rumah Ibadah Ibu Suri Agung. Sayang sekali Om Liem, yang menjabat sebagai Kapita Cina ( pemimpin komunitas Cina di Ternate ), yang dijadwalkan sebagai nara sumber utama tidak bisa menemani kita karena harus mengurusi ibadah dengan tamu dari Jakarta.

Kelenteng Ibu Suri Agung.

2. Rumah Letnan Arab.

Rumah Letnan Arab hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari Kelenteng, masuk wilayah Kampong Tenga. Mengapa di beri nama Letnan Arab? Karena jumlah orang Arab yang tinggal di Ternate pada waktu itu lebih sedikit dibanding Orang Cina, sehingga pangkatnya lebih rendah dari Orang Cina.

Pada masa pendudukan Jepang, di tempat itu pernah menjadi medan pertempuran yang hebat antara Sekutu dan Jepang.

Rumah Letnan Arab yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 100 tahun ini mengadopsi tiga budaya. Budaya Melayu, Cina, dan Eropa. Budaya Melayu tampak dari bagian depan yang merupakan rumah panggung. Budaya Cina tampak dari fentilasi, yang kalau kita perhatikan seperti ornamen cina di kertas untuk mengusir hantu. Budaya Eropa tampak pada lantainya, yang katanya di datangkan langsung dari Itali. Rumah ini cantik sekali, cocok untuk lokasi foto prewed. 

Lantai di Rumah Letnan Arab.


3. Kampong Palembang.

Bermula dari penangkapan Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang oleh Belanda yang kemudian beliau diasingkan ke Ternate bersama keluarganya pada tahun 1822. Pertama datang di Ternate, Sultan dan keluarga di tempatkan di Benteng Oranje seperti tahanan umum lainnya. Kemudian atas campur tangan Sultan Ternate, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga di berikan sebidang tanah yang diperuntukkan untuk tempat tinggal Sultan Badaruddin II dan keluarga. Sultan Mahmud Badaruddin II tinggal di Ternate selama 30 tahun. Sebelum meninggal Sultan Mahmud Badaruddin II berwasiat kepada Sultan Ternate minta dimakamkan di Ternate. Wasiat itupun di laksanakan oleh Sultan Ternate.

Daerah dimana Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga tinggal tersebut di kenal sebagai Kampong Palembang, yang sekarang berada di Jalan Nukila. Sayangnya, situs bangunan bekas rumah Sultan Mahmud Badaruddin II sudah berganti menjadi bangunan Bank Mandiri. Peninggalan yang masih bisa dilihat adalah makam Sultan Mahmud Badaruddin II di Pekuburan Muslim Ternate.

4. Bioskop Benteng.

Tampak depan bioskop ini mengingatkan saya kepada Hotel Orange di Surabaya. Kalau istilah arsitekturnya adalah jengki. Pada masa pendudukan Belanda sebelum menjadi bioskop,bangunan ini adalah sebuah gereja Kristen Protestan. Kemudian dibeli oleh seorang Cina dialihfungsikan menjadi bioskop. Pada awalnya bernama Bisokop Columbia karena hanya memutar film dari Columbia Pictures. Terakhir beroperasi sekitar tahun 1990 an akhir. Pemilik bioskop sekarang ini masih ada hubungan keluarga dengan Kapita Cina. Sekarang bangunan ini hanyalah sebuah bangunan kosong yang sepi.

Bioskop Benteng.


5. Bekas Sekolah Cina.

Terletak di perempatan Jl. Hasan Boesoeri, sayangnya sudah berubah menjadi bangunan ruko. Kemudian kami para peserta jelajah di ajak ke pinggir jalan, salah seorang panitia yaitu Didit Prahara berdiri di depan kami, layaknya seorang orator demonstrasi. Dia memulai orasinya dengan menanyakan, “Ada yang tahu Hasan Boesoeri?”.

Di Ternate ada sebuah rumah sakit yang bernama RSUD Chasan Boesoirie, letaknya di Tanah Tinggi. Kira – kira 2 km sebelah barat bekas sekolah Cina.

Karena tidak ada yang bisa menjawab, Didit melanjutkan ceritanya. Hasan Boesoeri berasal dari Semarang adalah seorang dokter muda dari sekolah kedokteran di Surabaya, dimana pada tahun 1937 di tugaskan ke Weda di Halmahera Tengah sebagai dokter tentara Belanda. Beliau pada waktu itu adalah satu – satunya dokter di Maluku. Baru beberapa saat di Weda, beliau sudah harus bertugas ke Patani karena ada wabah disentri di daerah tersebut. Di Patani ini beliau berhasil menyembuhkan seorang perempuan. Anak dari perempuan tersebut sangat terkesan dengan dokter Hasan Boesoeri, sehingga dia bercita – cita ingin menjadi dokter. Cita – cita tersebut terkabul, malah pernah menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga di masa Presiden Soeharto, namanya adalah dr. Abdul Gafur.

Jasa Hasan Boesoeri tidak hanya di bidang kedokteran, beliau juga sangat merakyat dan pendukung sejati kemerdekaan Indonesia. Beliau dinamai oleh Belanda sebagai Sultan Ternate Yang Tak Bermahkota ( De Ongekroon Sultan Van Ternate )

Pada tahun 1952 beliau pernah ditawari untuk menjadi Gubernur Maluku, jawaban beliau adalah, Politisi masih banyak tetapi medisi sangat kurang, jadi pilihan saya adalah tetap menjadi dokter”.

Beliau meninggal di Bandung, 24 Februari 1999.

Jl. Hasan Boesoeri.


6. Pertigaan Hotel Austine.

Di pojokan jalan tersebut ada sebidang tanah kosong. Menurut cerita dulunya adalah kantor kamar dagang Belanda. Diperuntukan juga untuk semacam kafe. Istilah jaman Belanda dulu adalah societet. Sayang sekali sudah tidak ada sisa bangunannya lagi.

Bekas Kamar Dagang Belanda.


7. Pelabuhan Residen Ternate.

Jelajah terakhir di Pelabuhan Residen Ternate. Letaknya di dekat Pantai Falajawa. Pelabuhan ini didirikan tahun 1811, tapi bangunan yang sekarang sudah tidak asli lagi. Bentuk Pelabuhan Residen seperti jembatan ke arah laut. Panjangnya kira – kira 50 an meter. Pemandangan dari Pelabuhan Residen ini sangat cantik sekali. Dibelakang Pelabuhan berdiri megah Gunung Gamalama, air laut di sekitar Pelabuhan sangat bening sekali, di seberang Pelabuhan terlihat Pulau Halmahera dan Kie Matubu Tidore.

Prof. Seon Wong Song stand up dengan Didit Prahara di atas Pelabuhan Residen.



Kemudian, dari tujuh lokasi tadi, kamu mau foto sama aku di mana?