Pages

Cari

Selasa, 11 September 2018

Menjadi Fasil Kelas Inspirasi Ternate 2.0

Tunjuk Satu Babeh.

Sebelum Hari Inspirasi.

Perjalanan menjadi fasilitator Kelas Inspirasi Ternate 2 dimulai setelah pengumuman rekrutmen relawan inspirasi dan dokumentasi yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2018. Kemudian dibuatlah WA group untuk masing – masing sekolahan, yang beranggotakan fasilitator, relawan inspirasi, dan relawan dokumentasi.

Saya dan Utari, seorang mahasiswi kedokteran dan juga Putri Kampus Universitas Khairun 2017, mendapat amanah menjadi Fasilitator di SD Negeri 62 Takome, Ternate Utara.


Relawan di SDN 62 Takome terdiri dari 11 relawan inspirasi, dan 3 relawan dokumentasi. Profesi, domisili, agama, jenis kelamin mereka sangat beragam. Pak Arba’in ( Perimba ), Capt. Bambang Oetomo ( Pilot ), Dwi ( Dokter Umum ), Edmalia ( Pegawai Pajak ), Ayu Mentari ( Banker ), Suryani ( Jurnalis ), Kartini ( Pengusaha ), Didit ( Dosen ), Ummu ( Teknisi ), Kartika ( Agen Asuransi ), Julia Putiray ( Pegawai Karantina ), Okky ( Airnav Indonesia ), Rizal ( Arsitek ), Siti ( Mahasiswa ).

Karena Utari baru pertama kali sebagai fasilitator, maka saya mencoba membuat catatan kecil tentang tugas fasilitator. Yaitu :

-  Mengabarkan timeline acara mulai dari Briefing, Hari Inspirasi, dan Refleksi.
- Memberikan data – data tentang SD tempat zone inspirasi.
-   Memantik diskusi dan menjadi moderator di WAG.
-  Membantu relawan mau ngapain nantinya pas hari inspirasi.

Tugas – tugas yang berhubungan dengan pihak sekolah dan mama piara, semua di pegang oleh Utari yang secara sebagai orang lokal dimana dalam menjalin komunikasi lebih cair dibanding  Sa yang kadang tara tau dong pe maksud. Dan juga waktunya Utari lebih fleksibel, sewaktu – waktu bisa meluncur ke mama piara atau ke SD untuk berkoordinasi.

Untuk para relawan, Saya juga membuat FAQ sederhana entah itu berguna apa tidak bagi mereka.

FAQ

Tersisa waktu tiga minggu bagi para relawan SD Negeri 62 Takome untuk mempersiapkan diri mereka.

Minggu pertama, suasana grup masih sepi.

Minggu ke dua, sudah ada inisiatif meet up. Selasa, 28 Agustus 2018 Saya, Kak Julia, Kak Rizal meet up di Istana Cafe. Meskipun hanya tiga orang, banyak hal dibahas. Salah satu kesepakatan meet up adalah, akan survey ke SD Negeri 62 pada hari Sabtu, 1 September 2018.

Sabtu pagi dari titik kumpul Lapangan Salero, Kak Didit, Kak Julia, Kak Tika, Saya, dan Utari berangkat survey ke SDN 62 dan juga ke Mama Piara. Di SDN 62 bertemu dengan Kepala Sekolah dan beberapa guru, melihat ruangan kelas, ngobrol dengan para siswa. Dilanjutkan ke rumah Mama Piara, meminta kesediaannya menampung para relawan selama semalam. Alhamdulillah, Kak Erna bersedia menjadi Mama Piara dengan segala keribetannya.

Setelah survey, kita kemudian bagi – bagi tugas. Ada yang bertugas membuat name tag buat para murid, ada yang bertugas mencari plakat untuk diberikan kepada sekolah, ada yang bertugas mendesain spanduk dan banner, ada yang bertugas merancang ide menuliskan cita – cita para murid, ada yang bertugas membuat yel – yel, ada yang bertugas membuat koreo, ada yang bertugas menghitung berapa semua biaya yang dibutuhkan kemudian menentukan berapa biaya yang harus ditanggung per relawan.

Tugas saya adalah memantik keributan di WAG dan menjaga semangat para relawan agar terus menyala. Sungguh tugas yang sangat receh.

Minggu ke tiga, tepatnya hari Jumat 7 September 2018 pagi, mulai mendarat para relawan SD Negeri 62 Takome yang dari luar Ternate. Capt. Bambang Oetomo, Kak Lia, Kak Ayu datang dari Jakarta, Kak Dwi datang dari Pulau Bacan. Mereka dijemput oleh Panlok dan langsung diantar menuju lokasi briefing.

Briefing Kelas Inspirasi Ternate 2.0

Sayangnya untuk briefing ini Utari dan saya tidak bisa ikut karena sesuatu dan lain hal, untungnya ada Kak Didit yang mau menghandle para relawan SD Negeri 62 Takome untuk sementara waktu.

Sore setelah pulang kantor, saya segera menuju rumah Mama Piara tempat dimana para relawan bermalam. Saya lihat Pak Pilot tidur nyenyak di dalam kamar, mungkin kecapekan karena telah menempuh ribuan kilometer perjalanan.

Kemudian saya menuju Danau Tolire Kecil, kira – kira 10 menit perjalanan dari rumah Mama Piara. Disana sudah ada Kak Didit, Kak Lia, Kak Ayu, Kak Okky, Kak Tika, Kak Julia, Kak Ummu, Kak Dwi, dan Kak  Utari  yang sedang latihan koreo yel – yel.

Dan tugas saya adalah menjaga semangat mereka agar tetap berkobar.

Setelah solat Magrib, Kak Erna telah menyiapkan makan malam untuk kita. Diatas meja makan terhampar aneka masakan khas Ternate, sayur kebung. Karena sayurnya berasal dari kebun belakang rumah. Ada kasbi atau singkong dan pisang yang dimasak pakai santan, ada sayur daun pepaya, ada sayur lilin, ikan bakar dabu – dabu, ikan rica.

Tanpa banyak ba bi bu, bak segerombolan kucing kelaparan seharian melihat ikan asin semangkok, diserbulah meja makan itu. “This is Jannah.” Kata mereka serempak. Pak Pilot Bambang berkali – kali mengambil kasbi. “Ini enak banget, enak banget ini.”

Di sela – sela makan malam, kita mendengarkan cerita dari para relawan. Magnet utama malam itu adalah Pak Pilot Bambang. Beliau sudah lima tahun megikuti Kelas Inspirasi di beberapa wilayah Indonesia. Di usia 61 tahun, beliau masih sehat, masih menjalankan pesawat ke belahan dunia. Subhanallah.....

Salah satu jokes beliau adalah, “Gimana cara mengetahui itu pramugari junior atau senior?”. Ada yang tahu?

Kemudian ada Perimba, Kak Arbain. Orang Sragen yang telah lebih dari 10 tahun menetap di Ternate. Membina TPQ Baitul Amanah Toboko dan Taman Bacaan Sabuabaca Pustaka Rimba. Yang menjelaskan kepada kita mengenai konsep Echoteologisme. Biyuhhhh.....Berattttttt. Biar aku saja yang mencerna, ngana tara kuat memahaminya Rangers.

Ada Kak Lia, sastrawan muda dari Direktorat Jenderal Pajak. Ada Kak Iin, Duta PKK Ternate yang menguasai lima bahasa asing dan ternyata seorang apoteker. Dan kakak – kakak kece yang lain.

Inilah keuntungan adanya diskusi di WAG sebelum Hari Inspirasi. Semuanya telah dipersiapkan, sehingga malam ini bisa digunakan untuk beristirahat dan bercengkrama agar besok fresh bertemu dengan para murid.

Oh iya, sebenarnya relawan di SDN 62 Takome ada 14 relawan tapi yang fix bisa ikut hanya 10. Insya Allah lain kali bisa ikutan.

Menjelang subuh, suara Kak Julia dan Kak Ummu yang lantang memecah beningnya pagi. Pak Pilot dan Kak Arbain sudah keluar menuju masjid. Yang lain dengan masih digelayuti kantuk mulai menggerakkan badan. Ada yang menunggu di depan kamar mandi, ada yang masih bingung mau ngapain, ada yang solat, ada yang sudah berdandan.

Saya masih tetap menjaga semangat mereka menyala.

Hari Inspirasi.

Jam 07.15 WIT terdengar suara lonceng. Para murid berkumpul di lapangan sekolah. Para guru dan relawan berdiri di depan para murid. Kak Utari sebagai host, mempersilakan perwakilan sekolahan untuk memberikan opening speech. Setelah itu Kak Utari mempersilakan masing – masing relawan memperkenalkan diri secara singkat. Para relawan mempunyai style sendiri – sendiri dalam mempromosikan diri mereka di hadapan murid – murid. Ada yang kalem, ada yang biasa, ada yang heboh. Dan kliyan pasti tahu dong siapa yang paling hebbbohh.....

Sebelum masuk kelas, Panlok dan relawan melakukan doa bersama dan sedikit briefing. Saya berpesan agar nanti di kelas para relawan inspirasi tidak melakukan selfi dengan para murid, mereka fokus menginspirasi. Biarkan relawan dokumentasi menjalankan tugasnya untuk mendokumentasikan kegiatan ini.

Karena ada seorang relawan inspirasi yang tidak bisa hadir, akhirnya saya menggantikan tugas tersebut. Saya mendapat jadwal jam ke dua di kelas tiga. Ketika saya masuk ke kelas tiga, ada seorang anak yang langsung berdiri maju menghampiri saya. Dia bilang gini, “Kak, kakak mirip yang main piano di Hitam Putih.” Mak jlebbbb.....Wooottttttt????? Sebegitu gantengkah saya sehingga ada yang mengira saya seperti Erwin Gutawa??? Eh..ups.

Ok fix, silahkan terbahak – bahak.

Sekitar jam 12.00 WIT selesai sudah Kelas Inspirasi. Murid – murid diminta menuliskan cita – cita  dan juga mengecap telapak tangan mereka di kain putih sepanjang 3 meter. Sebagian besar menuliskan cita – cita jadi polisi, tentara, guru, dokter. Ada dua cita – cita anti mainstream yang tertulis di kain itu, yaitu Satpol PP dan Petugas Karantina.

Ketika murid – murid dan relawan sibuk dengan menuliskan cita – cita, Pak Pilot disibukkan oleh beberapa murid yang menangis tidak mau berpisah dengannya. Dengan sabar dan telaten seperti dengan cucunya sendiri, Pak Pilot mencoba menenangkan hati mereka. Saya tidak tahu dengan bujuk rayuan manis apa, anak – anak itu akhirnya reda tangisnya.

Pak Pilot In Action

Relawan pun banyak yang dikerubuti dan dipeluk oleh murid – murid. Cuman saya yang tidak dikerubuti dan dipeluk. Mungkin saya kurang seksi di mata mereka.

Biarlah, karena tugas saya adalah menjaga api semangat jangan sampai padam.

Refleksi.

Refleksi diadakan di Pantai Tobololo. Panlok sudah menyediakan sebuah tenda tentara besar yang bisa menampung 50 an orang. Sayangnya, pas refleksi ini banyak relawan yang tidak bisa ikut. Ada yang karena ada tugas pekerjaan, ada yang karena alasan lain. Alhamdulillah untuk relawan SDN 62 Takome masih komplit.

Dengan dimoderasi oleh Kak Molid, pendiri Ternate Heritage Society, refleksi berlangsung dengan hidmat. Masing – masing sekolahan yang diwakili 2-3 relawan diberikan kesempatan menyampaikan refleksinya. Ada relawan yang menyampaikan kritik membangun kapada fasilitatornya, agar lain kali datang ke sekolah lebih pagi dibanding para murid dan guru. Ada relawan yang menyampikan saran agar relawan yang baru pertama kali ikut Kelas Inspirasi mencari tahu kegiatan ini melalui dunia maya dulu sehingga tidak blank ketika pas Hari Inspirasi. Ada yang sedikit curcol di usia yang sudah tidak muda lagi, apa sih yang sudah kita perbuat untuk lingkungan kita? Ada relawan yang tidak peduli apakah murid – murid mau menjadi seperti profesinya, yang penting dia telah menginstal nilai kebaikan kepada murid – murid. Ada juga relawan yang dengan jujur niatnya adalah mengajak murid – murid mengikuti jejaknya sebagaimana profesinya.

Kegiatan Kelas Inspirasi ini dibangun dengan 3 tujuan sederhana.

Untuk Siswa, membuka imajinasi mereka tentang profesi di masa depan dan tekad berjuang mencapai cita – cita.

Untuk Profesional, menyediakan wadah bagi mereka untuk merasakan langsung tantangan pendidikan sehingga mereka terus terlibat dalam memajukan pendidikan.

Untuk Guru, dapat membangun jejaring dengan dunia luar untuk dilibatkan dalam memajukan pendidikan.


Sejujurnya saya pun tidak yakin tiga tujuan tersebut telah saya capai. Kalaupun ada yang mengatakan ini hanya selebrasi sehari, saya terima dengan lapang dada. Sejatinya saya lah yang terinspirasi oleh siswa, guru, para relawan, dan Panlok.

Silahkan menonton video Kelas Inspirasi Ternate 2.0 yang dibuat oleh Kak Yogi.