Pages

Cari

Minggu, 16 Desember 2018

Sketsa Manado : Kawanua Baru

Merantaulah, dan akan kamu temukan sanak saudara, handai taulan, kawan baru sebagai pengganti yang kamu tinggalkan. Ini adalah nasihat dari ulama besar yang terkenal yaitu Imam Syafi’i. Bagi yang pernah, atau sedang merantau pasti membenarkan nasihat ini. 


Hari Rabu tanggal 10 Oktober 2018, secara de jure dan de facto saya bergeser dari tempat tugas lama di Ternate ke tempat tugas yang baru di Manado. Mutasi adalah takdir bagi setiap pegawai di DJP, dan di mana kita dimutasikan itu adalah nasib kita. Syukuri dan nikmati.

Tentu ada banyak cerita di Ternate. Berdasarkan statistik di blog saya, ada sekitar 55 sketsa yang saya tulis selama saya di Ternate, April 2016 sampai Oktober 2018. Saya menunggu investor yang rela menerbitkan Sketsa Dari Ternate, meskipun tentu tidak akan bisa menyamai Letter From Ternate nya Wallace.

Manado Running Club

Okay, saya akan memulai cerita di Manado dari kesukaan saya lari pagi. Alhamdulillah saya masih bisa meneruskan ritual pagi saya selama di Ternate, yaitu lari pagi. Kalau di Ternate tiap pagi saya mengelilingi Gelora Kie Raha, di Manado rute saya agak keren lah, di Kawasan Megamas. Berkat lari pagi ini saya dipertemukan dengan teman – teman pelari yang tergabung dalam Manado Running Club ( MRC ). Tag line mereka adalah Torang Pe Tamang Lari, kira – kira artinya kalo mo lari ayo bareng dengan kita. Dengan teman – teman MRC inilah saya merasakan Half Marathon untuk pertama kalinya. Meskipun finish paling akhir dengan pace diatas 9.  Menurut Coach David, salah seorang founder MRC, “Gak masalah seberapa lambatnya pace mu, kamu tetap pelari.” Danke Coach. 

Manado Running Club

Travelling N Teaching 1000 Guru Sulawesi Utara

Di akhir bulan November, saya mendapat kesempatan ikut Travelling N Teaching nya 1000 Guru Sulawesi Utara, dalam rangka anniversary yang ke 3. Saya tertarik ikut karena lokasi mengajarnya tidak di Kota Manado, tapi di Pulau Gangga. Sebuah pulau kecil di sebelah Utara kota Manado. Dan juga panitia mencantumkan kata – kata berikut, “ Bersedia tinggal beberapa hari di daerah terpencil, tidak mandi karena minim air bersih”. Ini cadas man, keluar dari zona nyaman.

Pada waktu mendaftar TNT 1000 Guru Sulawesi Utara, saya sebenarnya tidak pede. Karena berdasarkan cerita Mbak Pipit, beliau dulu adalah ketua 1000 Guru Maluku Utara, pada waktu awal tahun 2017 saya mendaftar ikut TNT 1000 Guru Maluku Utara, saya hampir tidak lolos karena faktor U. Alhamdulillah atas kegigihan Mbak Pipit yang bersikeras meloloskan saya, akhirnya saya jadi ikut TNT 1000 Guru Maluku Utara. Sukur dofu dofu Mak Pipit.

Alhamdulillah, ketika pengumuman tahap pertama relawan 1000 Guru Sulawesi Utara kali ini, saya ternyata lolos. Saya belum mendapat cerita bagaimana kok akhirnya saya bisa lolos. Apakah ada perdebatan sengit dulu diantara panitia, atau ada campur tangan bangsa lain.

Sebenarnya ikut kegiatan ini adalah sesuatu yang kurang kerjaan banget. Coba bayangkan, hari Jumat malam sekitar jam sembilan harus kumpul di Lapangan Kawasan Megamas Manado. Ada sekitar 60 relawan yang akan berangkat bareng ke Pulau Gangga. Setelah semua berkumpul dan melakukan beberapa games untuk saling mengenal, sekitar jam 1 dini hari kita berangkat ke Pelabuhan Serei Likupang dengan menggunakan dua bis kecil, tapi bukan Tayo.

TNT Sulawesi Utara

Jam empat subuh, kita sampai di Pelabuhan Serei Likupang.  Sepi banget, penduduk kampung belum ada yang bangun, kapal penyeberangan juga belum ada. Hanya beberapa anjing yang melolong, mungkin kaget atau bingung melihat kedatangan rombongan kepagian. Alhamdulillah ada satu kamar mandi di mess nya BAKAMLA yang buka dan ada airnya. Sehingga kita bisa menumpang wudhu untuk solat Subuh.

Jam 08.15 WITA, kita menyeberang dari Pelabuhan Serei Likupang menuju Pulau Gangga. Kapal yang kita gunakan adalah kapal kayu dengan lebar 1,5 m dan panjang 10 m, bermesin tiga.  Perjalanan lancar, 45 menit kemudian sampailah di Pulau Gangga. Karena nama pulaunya Gangga, saya pikir penduduknya ada hubungannya dengan India, ternyata tidak sama sekali.

Gangga berasal dari kata “ake gaga”, dari bahasa Ternate, yang berarti air tawar.  Luas Pulau Gangga 14.65m2, terdiri dari desa Gangga Satu dan Gangga Dua. Mayoritas penduduk Gangga Satu beragama Nasrani, berasal dari suku Siau dan suku Sangir dengan mata pencaharian adalah nelayan. Sedangkan penduduk Gangga Dua berasal dari Ternate, Tidore, Sangir, dan Minahasa. Mayoritas mereka beragama Islam. Dua desa ini hidup berdampingan secara damai.

Lokasi mengajar kita di SD Inpres Gangga 1 dan SD GMIM Gangga, masuk wilayah desa Gangga Satu.  Bagi saya khususnya, yang nota bene selalu berada di lingkungan muslim, kaget juga pertama kali masuk desa Gangga Satu. Yang saya kagetkan adalah banyaknya anjing yang berkeliaran, juga celeng atau babi hutan yang dipiara oleh penduduk. Jadi setiap kali saya berjalan, selalu waspada. Hahahah, lucu juga.

Sabtu pagi itu, kita bertujuh yaitu Kak Arian yang juga merupakan fasilitator ( profesional IT ), Kak Andrianus ( Bea Cukai Ternate ), Kak Angel ( dosen keperawatan ), Kak Eka ( profesional IT ), Kak Indah ( Nestle Manado ), dan Sister Rachel ( dosen Bahasa Inggris ), mendapat tugas mengajar di kelas 6 tentang pencernaan tubuh manusia dan bahasa Inggris. Jujur saya tidak punya pengetahuan yang mumpuni untuk mengajar perncernaan tubuh dan bahasa Inggris. Bagian saya hanya tepuk tangan saja. Beruntungnya di Tim Kelas 6 ada Sister Rachel, dia adalah dosen bahasa Inggris di Universitas Sam Ratulangi yang berasal dari Amerika, yang mengajarkan alat – alat perncernan manusia dalam bahasa Inggris dengan begitu gamblangnya. Mungkin, malah saya yang belajar banyak hari itu.

Malamnya kita tidur di ruangan kelas SD Inpres Gangga Satu, sambil mendengarkan suara rintik hujan.

Setelah mandi pagi ala kadarnya karena air benar – benar terbatas, dan sarapan pagi yang mewah, kita pun melanjutkan travelling ke Pulau Lihaga yang terletak sebelah barat Pulau Gangga. Dengan perahu kayu yang sama, kita meyeberang ke Lihaga sekitar 1 jam. Luas Pulau Lihaga kurang lebih 8 km2, pulau ini berpasir putih dan tidak berpenghuni. Ketika sampai di sana, ada baliho besar warna putih dengan tulisan warna merah berbahasa Inggris dan Cina, PRIVATE PROPERTY, NO TRESPASSING. Beberapa turis dari Cina tampak sedang menikmati Pulau Lihaga.

Pulau Lihaga

Saya pikir setelah sampai di Lihaga, kita akan langsung mengeksplor pulau kecil ini. Paling butuh waktu 30 an menit untuk berjalan mengelilinginya. Tapi ternyata panitia telah menyiapkan beberapa acara dan games. Sebagai peserta acara yang baik, ya kita ikuti saja.

Di tengah games yang sedang berlangsung, tiba – tiba cuaca sedikit mendung. Nahkoda kapal memberitahukan sebentar lagi akan ada angin barat, menurut mereka untuk menghindari angin barat tersebut kita harus segera meninggalkan Pulau Lihaga, kembali ke Pelabuhan Serei. Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, panitia memutuskan saat itu juga meninggalkan Pulau Lihaga.

Saya jadi teringat waktu ikut Kelas Inspirasi Halmahera Selatan #3 di Bacan. Ketika kembali dari Pulau Nusa Ra, kapal kayu di hempas gelombang yang dahsyat disertai hujan dan angin. Cerita tersebut bisa dibaca disini.

Sukur Alhamdulillah, rombongan 1000 Guru Sulawesi Utara sampai di Pelabuhan Serei dengan selamat sentosa tanpa kurang satu apapun. Tapi perjalanan belum berakhir, karena kita harus kembali ke Manado dengan menaiki bis kecil yang ramah.

Happy anniversary 1000 Guru Sulawesi Utara yang ke 3, semoga tetap menginspirasi anak – anak negeri di pelosok Sulawesi Utara.