Pages

Cari

Selasa, 30 Juli 2019

Pengalaman ( Gak Pernah ) Ikut Event Lari.

Foto by Asmin.

Cabang olah raga di Indonesia yang begitu banyak penikmatnya menurut saya adalah sepak bola dan badminton. Kedua cabang olah raga tersebut mempunyai sejarah panjang di hati rakyat Indonesia. Coba sesekali cek di Google, maka menurut lembaga survei Skala Survei Indonesia dari 225 juta jiwa rakyat Indonesia, 47,6% nya atau sekitar 108 juta jiwa menyukai sepak bola. Badminton mempunyai penikmat sebesar 18,8% atau 42 juta jiwa. Urutan selanjutnya adalah volley ( 12,4% ), senam ( 1,8% ), renang (1,7% ), jalan santai ( 1,6% ), lainnya ( 16,3% ).


Sewaktu saya SD, sekitar puluhan tahun yang lalu, pernah ikut klub sepak bola di kota Solo. Namanya adalah Hiyeging Wargo Mudo biasa disingkat HWM. Saya gak tahu masih ada gak klub tersebut sekarang ini. Latihannya di lapangan Tempel Banaran Solo. Sepertinya lapangan ini sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah dibangun gedung. 

Kemudian berganti cabang olah raga, yaitu badminton. Pernah ikut klub juga, maaf saya lupa namanya. Latihannya di gedung Argopuri Laweyan Solo. Gedung tersebut sampai sekarang masih menjadi tempat latihan badminton.

Di era tersebut media sosial yaitu stasiun tipi TVRI dan koran Suara Karya ( ini adalah koran jatahnya Bapak sebagai guru ) begitu gencar menayangkan berita kemenangan tim PSSI dan Tim Thomas Cup, Uber Cup, kejuaraan All England. Seingat saya para pemain PSSI ada Ronny Pasla, Ronny Pattinasarani, Rulli Nere, Iswadi Idris.  Kemudian untuk pemain badminton ada Rudi Hartono, Lim Swie King, Ferawati Fajrin, Ivana Lie. Di masa itu rakyat Indonesia benar - benar penikmat olah raga tersebut lahir batin. Dalam artian mereka ikut memainkan sepak bola dan badminton itu. 

Seiring dengan perkembangan jaman,  lapangan sepak bola mulai banyak berkurang demikian juga lapangan badminton. Entah dibangun perumahan, entah dipakai untuk bangunan yang lebih komersiil, dan kalaupun ada sudah tidak terurus. Mungkin juga karena tim PSSI tidak pernah masuk Piala Dunia dan prestasi badminton sedang turun karena didominasi oleh para pemain Cina. Maka penikmat lahir batin sepak bola dan badminton berkurang drastis.

Induk dari segala cabang olah raga adalah lari. Dan sekarang, menurut saya, lari sedang berada pada maqom nya tersebut. Mungkin karena makin berkurangnya lapangan sepak bola dan banyak yang tidak tahu bermain badminton, maka lari telah menjadi gaya hidup dimana - mana. Ada beberapa artis yang juga menggeluti secara serius olah raga lari ini, seperti Melanie Putria. Pelatih - pelatih lari sekarang ini seperti seorang artis, di panggil ke daerah - daerah untuk memberikan coaching clinic. Sambutannya lumayan dahsyat juga. Komunitas lari menjamur di beberapa instansi seperti djp runners, bri runners, bni runners, tukang parkir runners. Yang bersifat kedaerahan juga banyak seperti Manado Running Club, Manado City Runners, The Gorontalo Runners. Yang pecah kongsi karena olah raga lari juga ada. Ups.......

Pernak - pernik lari jangan dikira murah harganya. Sepatu merk Dragonfly sekarang sudah gak jaman lagi. Produsen sepatu saling berlomba membujuk rayu para pelari untuk membelanjakan uangnya membeli sepatu mereka. Pun juga dengan aksesoris lainnya seperti kaos kaki, celana lari, kaos lari, jam tangan, topi, kacamata, headset, minyak rambut.

Event - event lari mulai dari virtual run sampai really run, dari harga 150 ribuan sampai jutaan, dalam negeri maupun luar negeri, mulai jarak 5K sampai ratusan K, laris manis dalam sekejap. Menakjubkan bukan?  Saya salut buat mereka yang bukan atlit, dengan biaya sendiri, rela merogoh sakunya untuk ikut event lari tersebut, dan mereka tidak main - main. Prestasi mereka banyak yang setara atlit profesional. Kalau saya memilih buat beli tiket pesawat, pulang ketemu anak istri dan berlari bersama mereka.

Saya mulai intens lari sekitar tahun 2016 ketika di Ternate. Hampir setiap pagi mengelilingi Gelora Kie Raha. Alhamdulillah sampai sekarang masih diberi kekuatan oleh Allah berlari di sekitar Kawasan Megamas Manado. meskipun pace nya ya segitu - gitu aja. Makanya saya gak pernah lari bareng, takut mereka yang pace nya bagus ketularan jadi seperti pace saya. 

Pernah ada seorang junior di kantor yang bertanya mengapa saya berlari tapi body saya tetap gak atletis sama sekali. Nah....sebenarnya itulah tujuan utama saya berlari. Saya mau mematahkan premis bahwa untuk mendapatkan tubuh yang bagus harus berolahraga. Saya berharap semangat para anak muda berolah raga akan pupus tatkala mereka melihat saya yang telah menekuni lari dari 2016 sampai sekarang.  

Tetap berlari, sambil menunggu mutasi ke Jawi.
   

6 komentar: