Pages

Cari

Rabu, 11 Maret 2020

Gendang Tarik Pedati, Tagulandang Menarik Hati.

Berlabuh. Foto : Wira
Buka Google Map kemudian ketik Tagulandang. Maka akan Sampeyan temukan sebuah pulau kecil di utara kota Manado. Kalau di Google Maps ditulisnya Pulau Thulandang. Saya tidak tahu mengapa di tulis Thulandang. 

Jadi gini, Tagulandang itu adalah sebuah pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara. Mungkin ada yang menduga ada hubungannya dengan musisi Kitaro dari Jepang. Bissa aaee gulungan kabel.


Sitaro adalah singkatan dari Siau – Tagulandang – Biaro. Mereka bertiga adalah gugusan pulau – pulau di utara kota Manado penghasil pala terbaik dunia. Urutan yang terdekat dengan Manado adalah Biaro – Tagulandang – Siau. Disebelah utara Siau adalah Davao yang masuk wilayah Filipina.

Bagi yang suka naik kapal atau belum pernah naik kora – kora asli, boleh mencoba pesiar ke Tagulandang. Satu – satunya moda transportasi adalah kapal motor. Ada kapal cepat, kurang lebih dua jam perjalanan. Atau kalau mau nyantai, naik kapal motor biasa sekitar 5 – 6 jam. Kalau Sampeyan beruntung akan mendapatkan jackpot berupa tas kresek hitam dari ABK nya. Kalau tidak kepingin dapat jackpot, silahkan minum antimo. Eh, ada loh temen saya yang dapat jackpot kemarin, inisialnya W. Bukan ngana loh Wir. Eh.....

Bentor di Pasar 66 Tagulandang. Foto : Wira
Setelah sampai di Pelabuhan Tagulandang akan ada banyak bentor ( becak montor ) yang siap mengantarkan Sampeyan ke tempat yang dituju. Sebenarnya ada juga rental mobil. Itu baru kita ketahui pada hari terakhir di Tagulandang, setelah berinteraksi beberapa hari dengan aparat desa Balehumara. Sepertinya rental  sebagai sambilan, informasinya hanya dari mulut ke mulut. Pemiliknya adalah pegawai Lembaga Pemasyarakatan Tagulandang. Tarifnya 350 ribu lepas kunci.

Ada dua hotel yang lumayan representatif yaitu Platinum dengan view laut, dan Claudy dengan view rumah – rumah penduduk, anjing dan celeng atau babi hutan yang ikatannya pada tindikan di kupingnya bukan di lehernya. Dengan suara khasnya nggrok..nggrok..nggrok. Hahaha......Ini Indonesia mamen.

Gang Motor di depan Hotel Claudy. Foto : Wira.
Pada saat kita berangkat, ada teman yang menyarankan untuk membawa camilan karena makanan susah didapat. Ternyata gak tuh, asalkan ada kendaraan untuk mobile. Beruntung kemarin kita mendapat pinjaman motor. Yah pintar – pintar nya kitalah merajuk untuk bisa mendapat pinjaman motor. Makasih Pak Lurah Djofli dan staf atas budi baiknya. Jasamu tiada tara.

Di sekitar stadion ada orang jual martabak, sate ayam, bakso. Di depan kantor Kecamatan Tagulandang ada warung tuna bakar dan warung makan. Insya Allah halal. Di depan hotel Platinum ada sebuah cafe kecil namanya Chill Out. Nongkrong aja disitu sambil dengerin anak – anak muda lokal bersendau gurau.

Gunung Ruang. Foto : Saya.
Pagi hari sempetin joging di pelabuhan sambil menikmati Gunung Ruang yang  berdiri dengan gagahnya didepan pelabuhan. Berdasarkan beberapa literasi, gunung yang tingginya 725 mdpl ini termasuk dalam jajaran gunung aktif erupsi : 1808, 1840, 1856, 1870, 1874, 1889, 1904, 1914, 1949, 1996, 2002. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bangsa Eropa di awal tahun 1500 an telah sampai ke Tagulandang dan mencatat secara detil kejadian di sini.

Ada dua kampung di kaki gunung Ruang. Kalau pas hari pasar yaitu Selasa, Kamis, Sabtu, penduduk kampung tersebut akan menyeberang ke Pasar 66 Tagulandang dengan membawa hasil kebun dan sawah atau ikan laut untuk diperdagangkan. Selain hari pasar, denyut ekonomi di Tagulandang sepi banget.


Pulau Pasige terlihat dari Pelabuhan Tagulandang. Foto : Wira.
Di dekat Gunung Ruang ada sebuah pulau yang tidak berpenghuni karena tinggi pulau ini hampir rata dengan permukaan air laut. Kalau air pasang, pulau ini tenggelam. Namanya Pulau Pasige.

Kediaman Papi Parera. Foto : Wira.
Setelah joging di pelabuhan, di depan kantor kecamatan ada sebuah rumah yang berbeda dengan rumah disekitarnya. Halaman depan dan sampingnya luas dengan ditumbuhi rumput hijau dan bunga - bunga, ada sebuah bangunan seperti makam di depan rumah. Menurut saya model rumahnya seperti rumah Betawi dimana ada teras didepan.

Oleh Ibu Mei Rompis, seorang aparat Kelurahan Balehumara, saya diperkenalkan dengan pemilik rumah. Beliau memperkenalkan namanya adalah Parera, tapi masyarakat memanggil beliau Papi. Mungkin karena beliau termasuk orang yang dituakan di Tagulandang. Usianya sekitar 78 tahun. Papi bercerita bahwa rumah yang ditempatinya ini dulu adalah milik Raja Tagulandang yaitu Hendrik Philips Jacobs yang makamnya ada di depan rumah. Sempat beberapa tahun terbengkalai tidak terurus. Atas persetujuan keturunan raja Hendrik Philips Jacobs, Papi diperkenankan tinggal disitu sembari merawat rumah. Papi ini masih ada hubungan keluarga dengan istri dari raja. Sebenarnya asik ngobrol dengan Papi, tapi karena waktu yang sempit, kami terpaksa berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Yang lucu adalah pengakuan dari Ibu Mei yang baru pertama kali masuk rumah raja tersebut, padahal dia lahir dan besar di Tagulandang.

Perjalanan selanjutnya adalah mengitari Pulau Tagulandang. Menurut saran dari Ibu Mei, sebaiknya start dari selatan dengan alasan jalannya lebih landai.

Tebing Limpotos. Foto : Wira.
Spot pertama yang kita temui adalah tebing Limpotos. Perjalanan dari tempat parkir mobil dipinggir jalan menuju lokasi hanya butuh waktu lima menit jalan kaki melewati padang rumput. Kalau kita berfoto di atas tebing dengan latar belakang laut luas dan bukit – bukit, pasti dikira kita sedang berfoto di studio foto. Atau dikira photoshop. Saking ciamiknya mamen.

Ake Kuta. Foto : Supir angkot.
Spot selanjutnya adalah mata air di Kampung Bawo. Ada tiga mata air yaitu Ake Kuta khusus untuk perempuan,  Ake Koese khusus untuk laki - laki, Ake Honda atau air ajaib , disebut ajaib menurut cerita masyarakat air ini hanya memancar pada musim kemarau. Sayangnya pas kita sampai disana sudah menjelang magrib, maka hanya Ake Kuta yang kita datangi.

Catatan singkat ini sebagai dokumentasi bahwa saya pernah berkunjung ke Tagulandang, sapa tau besok udah mutasi ke Jawa. 

Aamiin kan sodara - sodari.

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Joss catatannya Suhu. Like its! Smeog suatu hari bisa berkunjung ke pulau Tagulandang.

    Salam pengelana ujung negeri.
    Semua akan (p)indah pada waktunya

    BalasHapus
  3. makasih dah mampir mas. ditunggu di Tagul.

    BalasHapus
  4. Pengalaman keliling nusantara , mdh2an segera bisa mutasi ke jawa timur apa jawa tengah ya om

    BalasHapus