Pages

Cari

Jumat, 03 Desember 2021

Gowes Malang Sekadarnya Saja

Bulan Desember, bulan yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang menunggu. Karena biasanya Desember identik dengan liburan akhir tahun. Entah itu ada PPKM Level 3, apalagi tidak ada level-levelan.

Senin tanggal 30 November kemarin, saya mendapat pesan melalui WA dari Mbak Rika, senior saya di sebuah sekolah kedinasan dibawah naungan suatu kementerian yang menterinya seorang perempuan yang berasal dari Kota Semarang. Mbak Rika ini juga pernah barengan satu peleton ketika diklat di Megamendung.

“Cak....kalo wisata ke Malang kemana aja ya?”


Pertanyaan sederhana, tapi saya bingung menjawabnya. Saya gak pernah melancong ke Malang, lawong rumah saya di Malang, meskipun Malang coret.

Beberapa malam saya memikirkan pertanyaan Mbak Rika tersebut. Akhirnya pada malam Jumat Kliwon, berbarengan dengan semut yang sedang ngrubungi remah-remah mesis, terlintas jawaban atas pertanyaan Mbak Rika tersebut.

Saya akan mencoba membuat daftar lokasi yang menurut saya ciamik, cocok untuk liburan kaum biasa-biasa saja yang bisa ditempuh dengan bersepeda yang sepedanya biasa-biasa juga. Kalau kata Iwan Fals “Libur kecil Kaum Kusam”, menurut Endah n Rhesa “Liburan Indie”, atau bahasa sederhananya terserah netizen ae lah.







Tiga foto diatas saya jepret di daerah Cemorokandang. sebelah Timur kota Malang. Kira-kira 5 km dari pusat kota Malang. Jepretan diambil pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB.

Foto ke tiga adalah siluet dari barisan pegunungan di sebelah barat Malang. orang-orang menamainya dengan Putri Tidur. Ujung kiri adalah Gunung Butak yang menyerupai kepala Sang Putri yang sedang berbaring dengan rambut terjuntai kebelakang. Yang ditengah adalah Gunung Kawi yang meyerupai dada Sang Putri, atau ada yang bilang tangan yang bersedekap di dada Sang Putri. Dan yang ujung kanan merupakan kaki Sang Putri adalah Gunung Panderman.



Kalau tidak suka dengan pemandangan sawah ladang, bisa ke arah kota dimulai dari Stasiun Kota Malang. Disekitar sini banyak penginapan, atau ketika turun dari kereta api langsung gowes.



Mampir ke Balikota Malang yang dibangun pada tahun 1927 dengan semboyan Voor de Burgers Van Malang ( Untuk Warga Malang).


Di depan Balaikota Malang terdapat Taman Tugu Malang, katanya dulu di era Hindia Belanda, dibangun untuk menghormati Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu Jaan Pieterzoen Coen. Dulu nama taman ini adalah JP Coen Plein.


 

Ikuti Jalan Mojopahit, melewati Jembatan Splendid yang merupakan penghubung antara daerah Kayutangan dengan Alun-Alun Tugu. Dibangun sekitar tahun 1917 dirancang oleh arsitek Belanda yaitu Thomas Karsten.

 

Di ujung Jalan Mojopahit, ada sebuah kedai yang merupakan icon kota Malang juga, yaitu Toko Oen. Katanya temennya temen saya, es grim disini tak tertandingi. Tapi ada yang bilang lebih enak Oen Semarang. Kalau menurut saya, es grim yang enak itu ya es thung-thung, si penjualnya selalu memukul alat gamelan bonang yang bunyinya thung-thung.

Untuk membuktikan enakan Oen Malang atau Oen Semarang silahkan datang sendiri saja, saya sudah lupa apakah pernah kesini atau belum.

Akhir dari etape pertama adalah Masjid Jami Malang yang terletak disebelah barat Alun-Alun Kota Malang. Menurut sejarah, masjid ini mulai didirikan tahun 1875. Hingga sampai saat ini telah dilakukan beberapa kali renovasi. 

Nah, setelah dari Masjid Jami , gowes Malang sekadarnya saja akan kita teruskan ke......

 

 

 

 

 


4 komentar:

  1. Habis dari alun², bisa mampir ke rawon nguling atau nasi semur gang buntu. Sambil mengenang markas gang kabupaten. Tempat pertemuan para highlander.

    BalasHapus
  2. Kipa ilakes sam.. lumayan tibake pelajaran sejarah e smpyn

    BalasHapus